Skip to main content

APAKAH DIRI KU BERKHIANAT KEPADA TUHAN?


Bumi tempat kita berpijak, bumi merupakan titipan Tuhan yang begitu patut kita syukuri bukan untuk dinodai bahkan membuat dia menangis. Bumi seharusnya sahabat dari manusia bukan jadi lawan manusia. Konon kehidupan dulu dengan kehidupan sekarang semakin membuat bumi kita menangis. Kehidupan dulu, bumi sangat lah dirawat, dijaga bahkan disayang. Namun sekarang, bumi dihancurkan oleh tangan tangan jail yang tak sepatutnya diterima oleh bumi.

Bumi adalah titipan Tuhan untuk segala umat ciptaannya, baik itu cantik/jelek, kaya/miskin, buruk/baik, dan lain lain. Namun apakah kita mengkhianati pemberian Tuhan, dengan menodai bumi kita sekarang ini? Manusia tidak akan pernah puas akan apa yang dimilikinya, banyak penemuan yang diperoleh manusia, namun banyak manusia yang menggunakan penemuan itu untuk ajang kepameran, hingga dia lupa akan merawat bumi ini, hingga dia akan menodai bumi ini, hingga dia lupa akan anugerah yang dititipkan oleh Tuhan kepadanya, dan hingga dia lupa akan tempat berpijaknya.

Suatu ketika, aku duduk termenung di bawah pohon yang amat rindang di sekitaran tempatku kelahiranku. Keindahan bumi yang ada di desaku mengundang udara yang dingin dan begitu sejuk, dikarenakan banyak pohon pohon yang rindang di desaku. Kehidupan bumi ini aku terus nikmati baik itu pagi dengan embun yang sangat dingin, baik itu siang panas matahari yang bagus dengan pelangi di sekitaran matahari, dan baik itu malam yang dihiasi oleh cahaya pernak pernik dari bulan dan bintang.

Suatu ketika, aku harus meninggalkan tempat kelahiran ku. Aku harus pergi merantau untuk melanjutkan sekolahku. Mungkin berat bagiku, meninggalkan tempat yang aku sayangi, tempat yang bagiku adalah surga kedua. Namun, aku harus merelakannya, demi kemajuan kampung halaman ku dan demi sang kedua motivator ku yaitu ayah dan ibu serta sanak saudaraku .

Aku pikir dunia sama saja, namun saaat tiba aku di suatu daerah kota, kehidupan ku terasa janggal. Keindahan yang tiap hari kunikmati kini tiada. Udara yang segar menyambut ku bangun di pagi hari , kini digantikan oleh CO2 yang masuk dalam hidung ku. Pemandangan pohon rindang, kini digantikan oleh bangunan pencakar langit. Kehidupan ku kini mulai asing akan tempat ini, akan kah suatu saat tempat ini bias berubah? Menurut saya tidak akan bisa, karena zaman semakin maju yang membuat teknologi yang semakin canggih, dan tak mau peduli akan bumi tempat dia berpijak.
Pemanasan global akan semakin menjadi jadi, es di kutub lambat laun akan mencair, hingga laut akan meningkat, sehingga terjadi lah bencana, pohon pohon kini ditebang oleh bebrapa manusia akibat ulah jailnya, sampah plastik yang semakin menumpuk . Dalam benak pikiran ku apakah aku pantas jadi penyelamat bumi atau bahkan apakah aku jadi salah satu penghianat bumi?

Setiap hari pernyataan itu ada dibenakku, aku tidak tau apa yang harus kuperbuat untuk bumi ini. Hari demi hari, zaman akan semakin canggih. Mungkinkah bumi ini akan kembali seperti semula? Mungkin saja tidak, itu hanya keajaiban belaka dan hanya angan angan beberapa orang saja.
Suatu ketika, aku bertemu dengan seseorang pembicara yang mengangkat topik “sampah plastik” . Di ajang seminar tersebut kami diajari untuk menyelamatkan bumi dengan cara mempergunakan plastik seadanya saja. Lalu aku terbayang akan pernyataan yang selalu datang menghampiri bayangan ku, dengan begitu jika memang aku ingin menyelamatkan bumi, aku harus memulai dengan hal kecil yakni mempergunakan plastik seadanya saja.

Namun, apakah bumi tertolong akan hal itu jika hanya beberapa saja yang melaksanakannya. Tentu saja iya, tapi kapasistanya terlalu kecil. Melalui penyuluhan seminar itu, sempat aku berpikir untuk mengajak mereka untuk lebih menghargai bumi ini, namun apa yang terjadi? Hanya kata kata yang diungkapkan oleh teman yang menganggap ku seorang pahlawan konyol.

Hari demi hari yang kulalui di kota orang ini, tetap sama saja. Mungkin di luar negeri sana, kehidupan lebih tenang, lebih aman, lebih menghargai bumi. Untuk membuang sampah saja dengan sembarangan, dia didenda, padahal di negeri ku ini tak memperlakukan seperti itu, bahkan sampah di negeriku ini sangat lah banyak, itu semua dikarenakan rasa saying kita kepada bumi sangatlah kurang. Sementara bumi ini adalah titipan terindah dari Tuhan, akankah kita manusia berkhianat akan anugerah dari Tuhan? Kita selalu meminta sesuatu dari Tuhan, namun harta yang paling berharga yang pemebrian dari Tuhan tak bisa kita sayang bahkan kita tak bisa rawat. Sungguh hal yang sangat aneh namun itu nyata.

Suatu ketika aku pergi ke salah satu tempat berada di sekitaran kosan ku, setiap aku lewat dari tempat itu, rasa bau yang sangat menyengat ke hidungku. Sampah berserahkan di sekitaran jalan, membuat mata ku sakit, dan di sana sudah tertera pamflet yang menyatakan “tidak boleh membuang sampah” namun masih ada ulah jail oleh manusia demi kesenangan nya bukan dipikirkan resiko orang lain.
Itu salah satu contoh yang dimana kita tidak menghargai bumi, mempergunakan plastik sebaiknya sangatlah dibutuhkan di bumi ini dengan menciptakan keindahan bumi ini. Dengan begitu kita bias lebih menghargai tempat kita bumi ini, surge titipan dari Tuhan ini.

Hampir 2 tahun aku berada di tempat ini, aku rindu akan kampung halaman ku yang mungkin semakin banyak pohon rindang. Namun saat itu aku pulang kampung, sama saja dengan nol. Kehidupan di kampung juga sudah berubah, pohon rindang kini berubah menjadi rumah yang super mewah, beberapa tempat ku sudah tandus diakibatkan penebangan pohon. Bumi semakin bersedih akan perilaku kita, memang boleh boleh saja kita mempergunakan di bumi ini, kita boleh menebang pohon, namun kita harus menanam kembali, kita boleh buat rumah mewah, tapi kita juga jangan terlena akan kemewahan, hingga kita lupa bumi ini, setidaknya kita membantu merawatnya dengan membuang sampah pada tempatnya, menghijaukan di sekitaran rumah itu.

Manusia semakin hari semakin menjadi jadi, kita tidak tau akan kapan bumi ini akan kembali menangis, kembali mengamuk , dan kembali menghantam manusia. Apakah disitu kita akan sadar bahwa bumi ini tidak saying sama kita? Bahwa Tuhan itu jahat?. Itu semua telah terlambat, kehidupan kita di bumi ini yang kita alami akan hari esok kita tidak tau. Menerima bumi akan sahabat dan keluarga bahkan diri kita sendiri, sama saja kita telah menyenangkan bumi ini, sama saja kita menyennagkan pemberian Tuhan. Bukan menghianati Tuhan akan pemberian bumi yang sangat indah kini bagaikan wilayah yang tak terurus.

Seharusnya kita sebagai penikmat bumi ini, kita harus menjaganya bukan membuat dia ternodai akan kejailan tangan tangan kita ini. Mungkin saja bumi saaat ini biasa saja, namun apakah kita tetap tinggal diam? Lihat di TV telah disiarkan oleh media media, bencana bencana di bumi ini seperti banjir, gempa, angin tornado, bahkan di bumi ini telah ada pasangan sesama jenis, yang membuat kita semakin hancur yang semakin membuat kita lupa akan titipan terindah dari Tuhan, membuat kita hanya penikmat bukan perawat.

Seharusnya kita sadar, seharusya kita harus bisa menjadi seorang contoh di lingkungan ku, apabila kita bergerak dan berdampak. Lambat laun bumi kita kembali akan kembali tersenyum. Memang memulainya snagat lah sulit, dan berkata sangatlah mudah. Namun kita memulai dari hal yang kecil saja, dengan kata “sampah” . Kita bisa saja mengurangi limbah plastik dengan mempergunakan plastik seadanya saja. Contohnya, jikau kau hendak berpergian ke suatu tempat, biasakan bawa botol minum yang dimana selain menghemat di kantong dan menghemat penggunaan plastik. Jika kamu hendak pergi belanja ke pasar, biasakan bawa keranjang supaya menghemat akan pemakaian plastik. Dengan contoh kecil itu kita bisa menyelamatkan bumi ini. Tanam lah pohon pohon yang akan mengurangi resiko longsor dan mengurangi resiko kebanjiran, dan beberapa lain sebagainya.
Memulainya bahkan melaksanakan bagi kita itu adalah hal yang sangat bodoh, diakrenakan banyak disekliling kita yang acuh dan tak acuh melihat keadaan bumi ini, bahkan mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak memikirkan lanjutan hidupnya. Mungkin saja di benak mereka jika bencana dating mungkin itu hanya bencana saja, bukan yang lain. Namun dibalik bencana itu ada suatu pertanda yang tak dapat kita defenisikan, yang mungkin pertanda itu dari bumi itu sendiri. Yang dimana bumi merindukan kasih sayang dari kita. Mungkin saja bumi itu marah akan melihat keegoisan, keserakahan kita, bahkan ketamakan kita.

Kita sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia seharusnya patut untuk dicontoh oleh bebrapa ciptaan Tuhan yang lain, patut untuk kita disyukuri, Bukan menjadi ajang ketamakan kita terhadap ciptaan yang lain, bukan menjadikan sesuka hati kita untuk memusnahkan mereka dengan cara tak sewajarnya, bukan untuk menjadikan mereka hanya modal kehidupan kita. Kita sebagai manusia yang mempunyai akal budi, sepatutnya kita merawat ciptaan Tuhan yang lain selain kita, namun sulit. Sesama manusia saja kita tak saling mengasihi. Bahkan diri kita sendiri terkadang kita tidak sayang, apalagi menyangi manusia lain,bahkan ciptaan Tuhan bahkan bumi ini.

Apabila kita sudah menyayangi diri kita sendiri, menyayangi sesama manusia, menyayangi ciptaan Tuhan yang lain bahkan menyayangi bumi ini yang dimana tempat kita menginjakkan kaki kita, tempat kita untuk mencari kebutuhan kita, tempat kita untuk melakukan yang terbaik bagi kita, mungkin saja bumi akan kembali tersenyum,mungkin saja bumi akan kembali bersahabat dengan kita, dan mungkin saja bumi akan memberi yang terbaik bagi kita serta Tuhan akan memberi rahmat dan anugerahnya yang berlimpah kepada kita, Tuhan akan member perdamian bagi kita satu sama yang lain sehingga kita akan hidup di dalam damai dan sejahtera.

Dengan begitu segala perkara, bencana bencana akan menjauh dari kita, kini kata pengkhianatan kita terhadap Tuhan akan tergantikan dengan kata anugerah yang kita terima dari Tuhan selama kita beroleh hidup olehNya.

Comments